Senin, 01 November 2010

Khutbah Idul Adha

PERJUANGAN MENUJU MASYARAKAT TAUHID


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُه ونَعوْذ بِاللهِ من شُرُوْرِأنْفسِناَومن سَيِأتِ أَعْمَالِناَ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ .فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ َصلىالله عَلَيْهِ وَ َسلًمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعة وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةً وَكُلَّ ضَلَالَةٌٍ ِفي النَاِر .اَللَّهمَّ صلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ

Allahu Akbar 3X
Saudara-saudara sekalian, sidang shalat ‘Ied rahimakumullah
Dari mimbar ini, ijinkanlah saya mengajak , marilah kita selalu bertakwa kepada Allah swt, dalam arti yang sebenarnya dan selurus-lurusnya. Dengan cara menjalankan secara ikhlas seluruh perintah Alllah swt, dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Marilah kita lebur hati dan jasad kita kedalam lautan takwa. Sebab, hanya dengan takwa -insya Allah- kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki di akhirat yang abadi nanti dan kebahagiaan hidup di dunia fana ini.

Kaum Muslimin A’azzakumullah
Hari raya Idul Adha yang juga kita kenal dengan hari raya Qurban salah satu hikmahnya adalah mengingatkan kepada kita bahwa ajaran Islam harus ditegakkan di muka bumi ini. Dan untuk menegakkannya kita harus berkorban, sebab memang tidak mungkin perjuangan dapat berjalan dengan baik tanpa pengorbanan kaum muslimin. Pengorbanan dalam perjuangan di jalan Allah itulah yang memang telah dicontohkan oleh para Rasul terdahulu termasuk nabiullah Ibrahim as, dan Nabi Muhammad saw.
Perjuangan menegakkan ajaran Islam sangat mendesak sebagai solusi di tengah-tengah kita sedang menghadapi berbagai persoalan di tanah air kita ini. Apabila kita mencermati kondisi lingkungan sekitar kita, pasti kita akan prihatin. Kalau nurani kita masih bersih, pasti kita akan mengelus dada menyaksikan babak demi babak kehidupan yang kini berkembang, betapa tidak saudara-saudaraku...saat ini hampir seluruh sektor kaum muslimin terpuruk. Dalam segi aqidah banyak sekali umat islam yang menganut keyakinan-keyakinan sesat dan menyesatkan. Nabi-nabi palsu muncul di mana-mana,. Perilaku-perilaku syirik merajalela, seperti perdukunan, penyembahan terhadap ahli kubur pengagungan yang berlebih-lebihan terhadap seorang tokoh, dan lain-lain.
Kemudian dalam aspek politik, yang tampil hanyalah permainan yang keruh penuh rekayasa, dan retorika semu. Dalam bidang ekonomi sistem keuangan riba yang diharamkan Allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya adalah makin lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, dalam lapangan sosial budaya kita disuguhi kebobroakan moral generasi muda masa kini. Setiap hari kita menyaksikan beragam kemaksiatan seperti : perzinaan, perkosaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya.

Saudara-saudara sekalian kaum muslimin rahimakumullah

Menyimak keadaan yang kami sebutkan tadi, kita jadi ingat firman Allah surat ar-Rum ayat 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Rasa-rasanya, firman Allah ini benar-benar cocok dengan yang kita alami sekarang ini.

Memang, jamaah sekalian...
Umat dan bangsa ini sedang berada dalam bahaya besar. Kerusakan telah menyebar dalam berbagai tempat dan waktu. Yang menjadi pertanyaan adalah : Kenapa semua ini bisa terjadi? Dan bagaimana cara mengobatinya berdasarkan ajaran Allah swt?. Jawabnya adalah karena umat ini terputus dari tuntunan agamanya. Ya, sudah sekian lama, umat Islam ini jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Ada jarak antara umat di satu sisi dengan ajaran Islam di sisi yang lain, sehingga kehidupan sehari-hari kaum Muslimin sama sekali tidak mencerminkan ajaran agamanya. Bahkan, adakalanya umat Islam merasa asing terhadap nilai-nilai dinnya sendiri. Satu contoh kasus, misalnya masalah hijab bagi kaum wanita. Kaum wanita yang menutup aurat malah dikatakan sebagai orang yang nyleneh.
Padahal sebenarnya merekalah yang justru melaksanakan perintah Allah. Kondisi ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits beliau bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam itu pada mulanya asing, dan nanti akan kembali asing seperti semula. Maka beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim)


Allahu Akbar 3X
Saudara-saudara sekalian, jamaah ‘Ied yang berbahagia
Sekarang inipun tengah menggejala di kalangan kaum muslimin sebuah paham yang biasa disebut sebagai sekulerisme (‘ilmaniyah). Paham ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia harus dipisahkan dari masalah agama. Menurut mereka, dunia ya dunia, jangan bawa masalah agama. Soal agama adalah soal pribadi. Oleh karena itu, menurut paham ini, dalam masalah hubungan sesama manusia, seperti cara bergaul, cara berpakaian maupun cara berekonomi cukup diserahkan pada rasio atau akal manusia saja. Sehingga, merekapun menyombongkan diri dengan meninggalkan ajaran Allah swt terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Ajaran sekulerisme inilah yang menjadi tantangan kita dewasa ini. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abdul Hadi al-Mishri dalam kitabnya “Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah minal ‘ilmaniyah” (Sikap Ahlus Sunnah terhadap Sekulerisme). Menurut beliau, cara hidup sekuler jelas sekali bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid. Sekulerisme (‘ilmaniyah) berusaha menegakkan kehidupan di dunia tanpa campur tangan agama, atau yang lazim di sebut La dinniyyah. Sehingga tata kehidupan yang meraka bangun bukanlah tata kehidupan yang bersumber dari wahyu Allah swt. Dengan kata lain, sekulerisme berhukum dengan aturan-aturan selain Allah. Padahal Allah swt berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan (tentang ayat ini): “Allah swt mengingkari setiap orang yang keluar dari hukumNya yang jelas, yang meliputi segala kebaikan dan melarang segala kejelekan, lalu berpaling kepada pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang diletakkan manusia tanpa bersandar kepada syariat Allah. Seperti sikap kaum jahiliyyah dahulu yang berhukum dengan hukum yang menampakkan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat sendiri berdasarkan hawa nafsu mereka.” (Juz 2: 67)


Jamaah ‘Ied Rahimakumullah...
Padahal, tauhid yang merupakan pondasi agama Islam, merupakan sebuah keyakinan yang menyandarkan seluruh aspek kehidupan hanya kepada Allah swt. Menurut Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya al-Firqatun Najiyyah (Golongan yang Selamat) menyatakan bahwa yang dimaksud tauhid adalah mengesakan Allah dengan beribadah. Dimana Allah swt menciptakan manusia dan jin ini tidak lain hanyalah agar beribadah kepada-Nya Firman Allah,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembahKu” (Adz-Dzariyat: 56)

Di dalam kitabnya yang lain, yakni yang berjudul Hudz Aqidataka Minal Kitab was Sunnah Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menegaskan bahwa tauhid merupakan salah satu syarat diterimanya amal seseorang. Artinya, tanpa keberadaan tauhid, amal seberapa pun banyaknya tidak akan diterima Allah swt.



Demikian saudara sekalian, jamaah Rahimakumullah
Jelas sekali, bahwa kehidupan sekulerisme yang kini menggejala dengan bebasnya, amat berseberangan dengan tauhid, pondasi agama kita. Oleh karena itu kita semua harus waspada terhadap konsep hidup sekuler itu.
Kemudian, bagaimanakah solusinya, bagaimanakah menyelesaikan serangkaian problem-problem yang kita bicarakan tadi? Bagaimana agara kita bisa keluar dari fitnah yang begitu banyak tersebut.
Saudara sekalian
Resepnya tidak lain kecuali kembali kepada al-kitab (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi Muhammad saw dengan pemahaman salafus shalih. Sebab,mengikuti al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah jalan satu-satunya menuju keselamatan. Melalui langkah ini ada jaminan yang kuat bagi kita untuk menyelesaikan berbagai kemelut yang menimpa kita. Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya di Makkah, yakni awal-awal beliau menyampaikan wahyu, situasinya hampir sama dengan keadaan yang kita hadapi saat ini. Hanya bentuknya saja yang berbeda, namun inti dan substansinya tidak berbeda. Kalau dulu ada perzinaan, misalnya, sekarang pun banyak perzinaan dengan berbagai model.
Oleh karena itu, untuk mengobati kondisi umat yang seperti sekarang ini, tidak bisa tidak, kita harus memulai sebagaimana Rasul saw membina umat. Masalah tauhid, harus dibenahi terlebih dahulu, sebelum urusan-urusan lainnya. Sebab, seperti itulah yang juga dilakukan para salafus shalih. Rasulullah saw bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ
“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Mutafaq ‘alaih)

Alluhu Akbar 3X
Saudara-saudara sekalian
Sebagaimana saya sebutkan dimuka, bahwa tauhid adalah pondasi agama Islam. Maka kalau pondasi ini roboh, roboh pula bangunan Islam yang lain. Sebaliknya, kalau tauhid umat ini kuat berarti pondasi yang menopang seluruh bangunan Islam itu pun kuat juga. Dengan demikian mengembangkan tauhid merupakan masalah yang sangat strategis bagi upaya membangkitkan kembali umat ini. Upaya-upaya untuk membangun kembali umat Islam, yang tidak memulai langkahnya dari pembinaan tauhid sama artinya dengan membangun rumah tanpa pondasi. Sia-sia belaka. Oleh karena itu, pembinan tauhid harus menjadi program yang harus diprioritaskan oleh seluruh kalangan kaum Muslimin ini. Pembinaan tauhid sebagaimana difahami salafus shalih harus disosialisasikan kepada seluruh umat. Sehingga mereka memahami jalan kehidupan yang benar, meninggalkan pola hidup yang bengkok.
تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما , كتا ب الله وسنتي
“Telah aku tinggalkan bagimu dua perkara yang tidak akan tersesat darimu setelah berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.” (Dishahihkan oleh al-Bani dalam kitab al-Jami’, diambil dari kitab al-firqatun Najiyyah).

Dalam hadits yang yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dikatakan:
خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ مُسْتَقِيْمًا .وَ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ لَيْسَ مِنْهَا قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِه وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
”Rasulullah saw membuat garis dengan tangannya, seraya bersabda kepada kami: “Ini jalan Allah yang lurus.” Dan beliau membuat garis-garis banyak sekali di kanan dan kirinya, seraya bersabda, “Ini jalan-jalan yang tak satu pun terlepas dari intaian setan untuk menyesatkan.” Kemudian beliau membaca ayat 153 surat Al-An’am: “Dan bahwa yanng kami perintahkan ini adalah jalanKu yang lurus. Maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain. Karena jalan-jalan lain itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (HR. Amad dan an-Nasa’i, Shahih).

Allahu Akbar 3X
Saudara-saudara sekalian, Jamaah Sholat ‘Ied rahimakumullah
Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah swt di hari yang mulia ini, di mana salah seorang hamba dan Nabi Allah yakni Ibrahim as mengaktualisasikan kemurnian tauhid dan bukti tauhid yang sungguh luar biasa, yang belum pernah seorang pun melakukan hal itu sebelum atau sesudahnya.

الحمد لله رب العالمين، وصلاته وسلامه على محمد خاتم النبيين، وإمام المتقين، ورسول رب العالمين، وعلى آله وصحبه والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات ، والمسلمين والمسلمات
اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك ، اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد ونرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك بالكفار ملحق.
اللهم اهدنا ويسر هداك لنا ، اللهم يسرنا لليسري وجنبنا العسري ، واجعلنا من أولى النهي ، اللهم لقنا نضرة وسرورا ، واكسنا سندسا وحريرا ، وحلنا أساور إله الحق اللهم اجعلنا شاكرين لنعمتك مثنين بها قائليها وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم.
اللَّهُمّ إِنّا نبرأُ إليك من كُلِّ حَوْلٍ وقوَّةٍ، ونستَعينك ونَسْتَهديك، ونعوذُ برضاكَ من غَضَبِك، فاغفر لَنا وارْحَمنا وتبْ علينا إنّك أنْتَ التَّوَّابُ الرَّحيم. ربَّنا وَلا تجعلنَا من الذين فرَّقُوا دِينَهم وَكانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُون.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات ، والمسلمين والمسلمات اللهم أصلح ذات بينهم ،
وألف بين قلوبهم ، واجعل في قلوبهم الايمان والحكمة ، وأوزعم أن يشكروا نعمتك التي أنعمت عليهم ، وأن يوفوا بعهدك ، الذي عاهدتهم عليه ، وتوفهم على ملة رسولك ، وانصرهم على عدوك وعدوهم إله الحق
Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-musuh Mu dan musuh-musuh mereka, wahai Ilah yang Haq, jadikanlah kami termasuk mereka.

Ya Allah perbaikilah agama kami yang merupakan benteng urusan kami; perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami; dan perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنْ الرَّاشِدِينَ
Y Allah jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

اللهم عذب الكفرة أهل الكتاب الذين يصدون عن سبيلك ، ويكذبون رسلك ، ويقاتلون

Ya Allah siksalah orang-orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, mendustakan Rasul-Mu dan membunuh penolong agama-Mu.


Ya Allah muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh-musuh agama-Mu. Jadikanlah keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta.

0 komentar:

Posting Komentar